Latar Belakang Peminatan S2 TIUI

Sejarah pengembangan Program Studi Teknik Industri tidak terlepas dari sejarah terjadinya revolusi industri yang memberikan kemampuan produksi secara mekanis yang meningkatkan volume produksi secara dramatis sehingga tidak lagi terbatas kepada kemampuan biologis. Kebutuhan timbul untuk melakukan manajemen yang lebih ilmiah terhadap kompleksitas yang timbul akibat mekanisasi industri ini, sehingga awalnya teknik industri merupakan sub-keilmuan dari teknik mesin. Baru pada tahun 1948, setelah Perang Dunia ke-2, secara resmi di Amerika dibentuk American Institute of Industrial Engineers (AIIE) yang saat ini menjadi Institute of Industrial Engineers (IIE) yang akhirnya mendorong perkembangan Program Studi Teknik Industri di Amerika dan di Dunia.[1] AIIE/IIE inilah yang mendefisinikan pertama kali keilmuan teknik industri sebagai berikut:

Industrial Engineering is concerned with the design, improvement, and installation of integrated systems of men, materials, equiptment and energy. It draws upon specialized knowledge and skill in the mathematical, physical, and social sciences together with the principles and methods of engineering analysis and design to specify, predict and evaluate the results to be obtained from such a systems.

Jika diterjemahkan secara ilustratif, maka keilmuan teknik industri memiliki empat bagian komponen, seperti pada gambar berikut ini

Gambar Illustrasi Definisi Keilmuan Teknik Industri

Gambar 1 Penterjemahan secara Ilustratif Keilmuan Teknik Industri

Keempat komponen tersebut adalah peranan dari lulusan teknik industri (desain, install, improve), fokus bidang sub-sistem industri, metode dan alat dalam meningkatkan kinerja sub-sistem dan sistem secara keseluruhan (specify, predict, evaluate) serta dukungan 2 bidang utama keilmuan teknik industri yaitu rekayasa dan manajemen. Pembagian secara ilustratif ini akan menjadi muara dari tumbuhnya perkembangan keilmuan teknik industri ke berbagai peminatan yang diusulkan di Teknik Industri UI.

Melihat perkembangan keilmuan teknik industri di Amerika Serikat, sebagai kiblat keilmuan teknik industri di dunia, program S2 Teknik Industri telah berkembang menjadi program S2 mandiri berdasarkan 4 komponen yang digambarkan pada Gambar 1, sehingga dapat diilustrasikan pada Gambar 2.

Setiap Kuadran Pembeda Peminatan di TIUI

Gambar 2 Pengembangan Spesialisasi S2 di Keilmuan Teknik Industri Dunia (terutama Amerika Serikat)

 

Komponen klasik pembeda program S2 Teknik Industri adalah Teknik Industri dan Manajemen Industri, namun seiring dengan perkembangan spesialisasi maka komponen lainnya telah menjadi pembeda tergantung dari:

  • Peran: apakah sebagai perancang industri atau sistem, manajer (manajemen industri), atau pengelola proyek (manajemen rekayasa).
  • Sub-bidang keilmuan, mencakup spesialisasi di salah satu man, money, machine, material dan methods
  • Pengelolaan kinerja: metode dan alat dalam mendukung peran dan sub-bidang keilmuan

Hal ini terlihat pola perkembangan S2 Teknik Industri di Amerika Serikat, dimana setiap komponen diatas telah menjadi sebuah program magister mandiri seperti yang dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1 Berbagai Program Magister dan Peminatan di Dunia dan Indonesia untuk S2 Teknik Industri

Georgia Institute of Technology
Industrial and Systems Engineering Departement

Stanford University
Management Science & Engineering Department

Northwestern Engineering McCormick
Industrial Engineering and Management Sciences Department

PTN A

PTN B

  1. Master of Science in Industrial Engineering (MSIE)
  2. Master of Science in Supply Chain Engineering
  3. Master of Science in Analytics
  4. Master of Science in Operations Research (MSOR)
  5. Master of Science in Statistics (MSStat)
  6. Master of Science in Health Systems (MSHS)
  7. Master of Science in Quantitative and Computational Finance(MSQCF)
  8. Master of Science in Computational Science and Engineering
  9. Master of Science in International Logistics

  1. Financial Analytics
  2. Operations and Analytics
  3. Technology and Engineering Management
  4. Decision and Risk Analysis
  5. Energy and Environment
  6. Health Systems Modeling
  1. Master of Engineering Management
  2. Managerial Analytics
  3. Design & Innovation
  4. Project and Process Management
  5. Master of Science in Analytics
  1. Sistem manufaktur
  2. Ergonomi dan rekayasa kinerja
  3. Manajemen industri
  4. Sistem informasi enterprise
  5. Sistem industri dan rantai suplai
  1. Manajemen Kualitas dan Manufaktur
  2. Optimasi Sistem Industri
  3. Manajemen Logistik dan Rantai Pasok
  4. Ergonomi dan Keselamatan Industri
  5. Manajemen Kinerja dan Strategis

Di Indonesia berbagai program studi menggunakan pola pengembangan berbeda dengan tidak menyusun menjadi program studi S2 berbeda namun sebagai peminatan atau jalur pilihan. Dua PTN Teknik Industri acuan di Indonesia memiliki jalur pilihan atau peminatan yang juga dijabarkan pada Tabel 1. Peminatan ini sendiri telah berkembang menjadi lebih dari 2 peminatan awal yang umum di TI Indonesia, yaitu Teknik Industri dan Manajemen Industri.

Berdasarkan perkembangan keilmuan ini dan kecenderungan pola di Indonesia, maka Program Magister Teknik Industri memilih jalur peminatan sebagai bentuk pengembangan program magister. Ini sejalan pula perubahan paradigma konsep peminatan di Universitas Indonesia, yang bukan lagi sebuah sub-program studi yang semi mandiri dengan kurikuluam yang bisa berbeda secara menyeluruh, namun merupakan kekhususan dengan mayoritas muatan inti kompetensi adalah sama. Hal ini sejalan dengan SK Rektor UI tentang penyelenggaraan Program Magister No.2199/SK/R/UI/2013 yang mensyaratkan kesamaan 60% antara satu peminatan dengan peminatan yang lain dalam satu program studi.

Proses pengembangan Lima Peminatan Teknik Industri berbasis kepada kondisi dan kekuatan internal dan peluang diferensiasi eksternal, dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat dan industri terhadap lulusan S2 Teknik Industri.

Kebutuhan pasar terhadap keilmuan Teknik Industri sendiri dapat dilihat dari kemungkinan pengembangan karir dari seorang sarjana, yaitu menjadi spesialis atau generalis. Sebagai spesialis, biasanya calon mahasiswa memiliki latar belakang sarjana teknik industri atau bekerja di bidang yang merupakan spesialisasi keilmuan teknik industri. Sebagai generalis, biasanya calon mahasiswa tidak memiliki latar belakang sarjana teknik industri namun ingin mendapatkan pengetahuan untuk melakukan manajemen di Industri atau mengambil kebijakan di Industri. Hal ini dapat digambarkan pada ilustrasi di Gambar 3.

Presentasi Program Peminatan S2 TIUI

Gambar 3 Pola Kebutuhan Pasar terhadap S2 Teknik Industri Selama ini dan Usulan Peminatannya

Secara keilmuan, Teknik Industri Universitas Indonesia sendiri telah dianggap memiliki berbagai keunikan dan kekuatan yang berbeda dibandingkan Teknik Industri lainnya di Indonesia. Dua guru besar Teknik Industri yang dimiliki telah diakui sebagai peneliti di bidang sistem produksi dan data mining. Terdapat tiga laboratorium yang memiliki fasilitas dan keunggulan riset yang unik di Teknik Industri di Indonesia, yaitu Laboratorium Ergonomi, Produk Desain dan Inovasi serta Laboratorium Rekayasa Pemodelan dan Simulasi Sistem. Jika dipetakan maka setiap peminatan telah memiliki dukungan laboratorium yang kuat seperti terdaftar pada Tabel 2.

Tabel 2 Pemetaan Dukungan Sarana dan Sumber Daya Manusia dalam Setiap Peminatan

Peminatan Laboratorium Departemen
Inovasi dan Ergonomi (IE) Lab. Desain Produk dan Inovasi

Lab. Faktor Manusia – Ergonomic Center

Sistem Produksi dan Logistik (SPL) Lab. Sistem Manufaktur
Manajemen Industri (MI) Lab. Sistem Informasi & Pengambilan Keputusan
Rekayasa Sistem (RS) Lab. Rekayasa Pemodelan dan Simulasi Sistem
Rekayasa Data dan Kualitas (RDK) Lab Kualitas dan Rekayasa Reliabilitas

 

Tabel 2 Menunjukkan bahwa setiap peminatan telah memiliki dukungan sumber daya yang mencukupi dalam melakukan kegiatannya nanti.


[1] Louis A. Marting vEga (2001), The Purpose and Evolustion of Industrial Engineering. in K. B. Zandin (Ed.), Maynard’s Industrial Engineering Handbook (5th ed.), New York, McGraw Hill, pp. 1.3-19